Skip to main content

Berkunjung ke Ragunan bulan November 2021

 




Hari Sabtu 6/11, saya bersama ibu, kakak dan adik berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan (Taman Margasatwa Ragunan). Sejak pukul 10 pagi, antrian motor sudah menempati ruas jalan mengarah ke Jl. RM Harsono. Saya yang sudah daftar online sejak sehari lalu cukup merasa bersyukur karena sudah mengantongi barcode yang dikirim via Gmail oleh Pengelola. Sayangnya, banyak masyarakat yang belum mengetahui di mana daftar online untuk masuk ke Ragunan. 

Saya menyarankan anda untuk mengunjungi laman Instagram Ragunan, di link bio ada link yang mengarahkan anda untuk mengisi google forms. Nanti setelah mengisi NIK, Nama, jumlah tiket (Maksimal.5 orang), gmail yang telah didaftarkan akan menerima barcode untuk masuk. 

Berhubung karena rumah saya berlokasi di belakang kebun Binatang, saya menggunakan kendaraan roda dua bersama ibu. Khusus hari libur, saya diarahkan untuk masuk pintu utara yang mengarah ke taman Anggrek Ragunan/Gelanggang. Nanti bakal ditanya, "Mana bu barcode di gmailnya?, scan pedulilindungi dulu yaa". Nanti masuk Ragunan juga bukan lagi pakai uang cash, wajib memliki kartu JakOne Bank DKI. Kalau gak punya, beli dengan harga 35.000 dengan saldo yang sisa 9000 

Saya, ibu, kakak dan adik dapat menikmati luasnya Ragunan, saya sarankan pakai sepatu olahraga. Pakai sunscreen dan sejenisnya, karena panasnya nampol! Saya foto-foto di depan air mancur utama yang berisikan Pelikan dan ikut menyewa sepeda seharga 15.000/1 jam. Saya juga bawa tikar dan makanan-minuman karena memang niat kami bersama adalah piknik low-budget khas Jakartans, hehe. 

Disana harga minum cukup variatif, kalau official biasanya dijual dengan harga 5000-12000, tergantung merk minuman. Tapi, kalau beli di ibu-ibu penjual kadang harganya tidak masuk akal, Aqua/Le-Minerale bisa dibeli dengan harga 7000. Es krim berkisar 10.000 rupiah. 

Selama saya di Ragunan, saya tidak pernah menyewa perjalanan dengan mobil berantai berharga 5000/1 jam. Saya juga cukup menyoroti kamar mandi yang masih kurang bersih dan Masjid yang mukena nya sedikit dan berbau. Saya sarankan untuk memulai perjalanan dari pusat primata saja, dengan harga tiket hari libur 7.500/ orang. Di Pusat primata nanti bisa berfoto, bersantai, tapi gak bisa makan karena ditahan di pintu masuk. 

Bagi saya pribadi, Ragunan sudah cukup bagus dan tertata baik. Namun, akses masuk-keluar masih sangat membingungkan, spot makan keluarga juga harus diberi tanda agar tidak sembarangan ditempati. Ragunan masih kurang bunga-bunga berwarna dan pohon teduh walau di area Barat malah seperti hutan yang sangat lebat. 

Satu lagi, bule-bule tolong dikasih fasilitas information places yang lengkap dari awal pintu masuk karena sering ngeluh. 

Comments

Popular posts from this blog

Tugas Makalah Sosiologi Komunikasi Massa - Khalayak dalam Komunikasi

  MAKALAH SOSIOLOGI KOMUNIKASI MASSA “Khalayak dalam Komunikasi Massa” Dosen Pengampu : Dr. Ismail Cawidu, M.Si.   Disusun Oleh Mahasiswa Jurnalistik   UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI JURNALISTIK 2021 PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Komunikasi massa dapat dijelaskan dari dua cara pandang, yakni bagaimana orang memproduksi pesan dan menyebarkannya melalui media di satu pihak, dan bagaimana orang-orang mencari serta menggunakan pesan-pesan tersebut di pihak lainnya. Secara sederhana, komunikasi massa dapat diartikan sebagai proses komunikasi melalui media massa. Faktor media massa sangat dominan dalam studi komunikasi massa. Pengkajian komunikasi massa banyak dipengaruhi oleh dinamika media massa dan penggunaannya oleh khalayak. Perkembangan media massa sendiri banyak dikaitkan dengan sejumlah faktor yang melingkupinya, misalnya jumlah melek huruf yang semakin besar, perkembangan pesat dal...

Karya Sastra Buku 99 Tangan Tuhan di Aceh

   Gempa dan tsunami Aceh 2004, sebuah bencana yang menyadarkan setiap manusia. Banyak kisah menarik dibalik bencana tersebut. manusia,tumbuhan, dan hewan ikut merasakan, memberikan pelajaran hidup yang nyata. Tidak hanya Aceh yang merasakan namun, negara tetangga pun juga merasakan. Lantas dibalik bencana tersebut, terdapat kisah-kisah menarik dari orang-orang yang merasakan. Dan kisah-kisah tersebut dibukukan, 99 Tangan Tuhan di Aceh, buku ini wajib kalian baca. Judul buku: 99 Tangan Tuhan di Aceh (Misteri dan Keajaiban di Balik Tsunami) Penerbit: Yayasan Air Mata  Tahun: 2005 Editor: Sri Widodo, Ikhwan Nursyujoko    Buku ini diawali oleh kisah hidup Teuku Darusman yang terpelanting ke atap rumah warga pada saat tsunami menerjang Punge Ujung, Kota Banda Aceh. keluarganya membuat lingkaran dan saling berpegangan erat saat ombak hitam besar datang secara tiba-tiba dan berlangsung dalam hitungan detik.     Berpegangan erat dan terus...

Nadin dan rumpang, Terimakasih Nadin !

Di malam ini, 18 Agustus 2018, penulis mendengar sebuah lagu yang cocok untuk menemani malam ini. Suasana sepi hilang rasanya, dengan kenangan yang teringat akibat mendengar lagu ini. Rumpang, milik Nadin Hamizah. Sebuah lagu yang penulis temukan ditengah malam secara random. Begitu telat untuk tahu, karena lagu ini dipublikasikan pada tanggal 12 Juli 2018. Beruntung, setidaknya penulis mengetahuinya di malam ini.     Lagu ini terus menyuapi penulis dengan kata “pergi”, dan “mimpi”. Begitu pas dan benar-benar cocok dengan perasaan ini. Sebuah mimpi yang sederhana, tidak mendengar kata “pergi”, dan merasakan ketika seseorang “pergi”. Didalam lagu ini, terlihat jelas bahwa ditinggalkan begitu menyakitkan. Entah itu ditinggal karena telah meninggal atau ditinggal karena sudah tidak menemukan titik terang didalam suatu hubungan. Lagu ini simple, banyak orang yang mengartikan bahwa lagu ini menceritakan seorang wanita yang ditinggal diam-diam. Sang wanita merasa bahwa ini...